Sunday, November 4, 2018

Kontrasepsi, Identifikasi, dan Penerapannya

Kontrasepsi, Identifikasi, dan Penerapannya



Kontrasepsi merujuk ke berbagai metode untuk mencegah kehamilan. Metode-metode bervariasi, mulai dari yang alami hingga yang bersifat invasive (pembedahan). Masing - masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan, memberikan berbagai pilihan bagi para pasangan suami istri. Beberapa metode kontrasepsi juga menghasilkan proteksi terhadap penyakit menular seksual (PMS).

Namun demikian, efisiensi dari masing-masing metode tergantung dari sifat kepatuhan pengguna/akseptor terhadap metode tersebut dan faktor lainnya, seperti penyakit atau kondisi fisiologis. Oleh karena itu, pasangan suami istri dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk memilih metode kontrasepsi apa yang paling sesuai untuk mereka.


Identifikasi Kontrasepsi

Pasien wanita datang untuk meminta saran mengenai metode kontrasepsi apa yang sesuai untuk dirinya.

1. Apakah pasien adalah korban kekerasan seksual atau apakah pasien telah melakukan hubungan seksual tanpa pelindung dalam rentang waktu 12 jam terakhir ?
Pasien mungkin dapat diresepkan pil kontrasepsi darurat (kondar). Pil kontrasepsi darurat ini mengandung hormon - hormon, seperti kombinasi estrogen dan progestin, progestin dan ulipristal asetat. Selain pil kondar, IUD juga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi darurat, tetapi IUD tersebut harus dipasang dalam waktu 5 hari sesudah melakukan hubungan seksual tanpa pelindung.

2. Apakah pasien lebih memilih metode kontrasepsi alamiah dan apakah pasien mengalami siklus haid yang teratur ?
Pasien dapat memilih metode kontrasepsi pantang berkala atau KB Kalender, dengan tidak melakukan hubungan seksual selama masa subur. Dan apabila pasien mengalami siklus haid yang tidak teratur, pasien dapat menggunakan metode suhu basal tubuh, pengamatan lendir serviks, atau metode simtotermal, untuk mengetahui masa ovulasi dengan menilai suhu tubuh dan perubahan lendir serviks.

3. Apakah pasien memiliki penyakit genetic atau masalah kesehatan yang dapat menyebabkan kehamilan berisiko tinggi atau tidak lagi menginginkan kehamilan di masa mendatang ? dan apakah pasien memilih sterilisasi ?
Pasien wanita dapat menjalani ligasi tuba, yaitu tindakan pembedahan dengan mengikat atau memotong tuba falopi sehingga sel sperma tidak dapat bertemu dan membuahi sel telur yang sudah matang. Atau pria pasangannya dapat menjalan ivasektomi, yaitu tindakan pembedahan dengan memotong saluran vas deferens yang berfungsi sebagai saluran bagi sel sperma dari skrotum menuju uretra.

Jika pasien tidak memilih strelisasi, pasien dapat menggunakan Intrauterine Device (IUD) atau KB spiral, yang dipasang di dalam uterus. Tindkan pemasangan dan pengeluaran IUD harus dilakukan oleh tenaga professional kesehatan terlatih. IUD dapat dipasang hingga 5 - 10 tahun.

4. Apakah pasien memiliki pasangan seksual lebih dari satu orang atau berisiko terkena penyakit menular seksual (PMS)?
Pasien dapat menggunakan metode kontrasepsi barier. Pada metode ini digunakan barier fisik (kondom, cerfical cap, diafragma) dan kimiawi (spermisida) guna mencegah sperma untuk bertemu dan membuahi sel telur. Kondom dapat memberikan proteksi terhadap PMS, sedangkan barier fisik lainnya harus digunakan bersama kondom atau spermisida untuk menghasilkan proteksi terhadap PMS.

5. Apakah pasien berusia diatas 35 tahun ? Apakah pasien merokok ? Apakah pasien memiliki salah satu atau lebih faktor di bawah ini :
  • Riwayat pernah atau saat ini mengidap hipertensi atau penyakit kardiovaskular lainnya
  • Migren
  • Kanker payudara
  • Riwayat penyumbatan oleh bekuan darah atau stroke
  • Pendarahan per vaginam yang tidak diketahui penyebabnya

Apakah pasien mengkonsumsi pil kontrasepsi secara teratur ?
Pasien dapat dianjurkan untuk menggunakan pil kontrasepsi yang hanya mengandung progestin. Rujuk kedokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk ditangani lebih lanjut.

Jika pasien tidak sedang mengkonsumsi pil kontrasepsi, pasien dapat dianjurkan untuk menggunakan injeksi/implant yang mengandung progestin. Injeksi diberikan 3 bulan sekali, sedangkan implant dapat digunakan hingga 3 tahun.

6. Apakah pasien mengonsumsi pil konsentrasi secara teratur ?
Pasien dapat dianjurkan untuk menggunakan pil kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progestin. Jika pasien tidak sedang menggunakan pil kontrasepsi, Pasien dapat dianjurkan untuk menggunakan Contraceptive Patch atau Vaginal Ring, yang mengandung kombinasi estrogen dan progestin. Rujuk pasien ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk ditangani lebih lanjut.


Anjuran Untuk Pasien

  • Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis kandungan dan kebidanan untuk mengetahui metode kontrasepsi yang paling sesuai untuk digunakan.
  • Semua wanita yang hendak menggunakan kontrasepsi oral sebagiknya menjalani pemeriksaan skrining terlebih dahulu.
  • Jika pasien telah melakukan hubungan seksual tanpa pelindung, segera periksa kedokter sesegera mungkin. Dapat diresepkan obat kontrasepsi darurat (pil kondar) yang tersedia di pasaran (dibeberapa Negara tertentu yang mengizinkan peredaran obat ini) tetapi harus segera digunakan dalm waktu 120 jam setelah terjadi hubungan seksual tanpa pelindung.
  • Pastikan bahwa pasien mengetahui tanggal kadaluarsa dari produk kontrasepsi yang sedang digunakan.



Tips

  • Pasien sebaiknya mengetahui mengenai cara penggunaan yang tepat dari produk kontrasepsi yang dianjurkan, besarnya kemungkinan terjadinya kehamilan walaupun menjalani metode kontrasepsi, efek-efek samping yang mungkin timbul akibat menggunakan kontrasepsi, misalnya peningkatan berat badan, dll.
  • Pasien sebaiknya mengetahui bahwa diperlukan kepatuhan dan keteraturan dalam menggunakan kontrasepsi oral agar memperoleh efek yang optimal.
  • Jika metode kontrasepsi mengalami kegagalan atau timbul gejala - gejala yang tidak seperti biasanya setelah menggunakan kontrasepsi, anjurkan pasien untuk segera berkonsultasi kembali ke dokter.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search